- Back to Home »
- Sejarah Tugu Yogyakarta
Posted by : Created By TSL 17110115
Jumat, 19 Juli 2013
Yogyakarta — Bila datang ke Yogyakarta, dan kebetulan Anda bingung
menentukan arah mau ke mana, ada satu patokan yang pasti dikenal oleh
seluruh Wong Yogya. Itulah Tugu. Sebuah bangunan monumen sejarah yang
terletak di perempatan bertemunya Jalan P Mangkubumi di sisi selatan,
Jalan AM Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah
timur, dan Jalan P Diponegoro di sebelah barat. Tugu setinggi 15 meter
itu diresmikan pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa.
Dari Tugu itu pula, maka pendatang dari luar Yogya seolah bisa
"menggenggam" seluruh kawasan kota ini. Tinggal mau ke mana? Semua bisa
ditempuh dalam hitungan menit. Yogya kota kecil, Tugu bisa menjadi poros
segala arah. Jika kemudian bingung di dalam kota Yogya, silakan kembali
ke Tugu. Dijamin Anda tidak bingung lagi!
Asal tahu saja, Tugu itu ternyata juga menjadi salah satu poros imajiner
pihak Kraton Yogyakarta. Jika ditarik garis lurus dari selatan ke
utara, atau sebaliknya; maka akan ditemukan garis lurus ini: Laut
Selatan (konon dikuasai oleh Kanjeng Ratu Kidul, istri Sultan Raja-raja
Mataram), Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi.
Bahkan, Sultan sebagai penguasa Kraton Yogyakarta, jika duduk di
singgasana di Siti Hinggil Kraton, ia bisa memandang Gunung Merapi di
sisi utara. Ikatan magis antara Laut Kidul, Kraton, dan Gunung Merapi
hingga saat ini dipercaya oleh Wong Yogya. Oleh sebab itu budaya
larungan selalu dilaksanakan pada bulan Sura di Laut Selatan maupun
Gunung Merapi oleh pihak Kraton.
Filosofi Berubah
Seiring dengan perjalanan sejarah, Tugu yang sudah berumur 100 tahun
lebih itu rupanya akan diubah bentuknya. Perubahan bentuk itu – jika
jadi dilakukan -- jelas bisa dibilang melanggar undang-undang cagar
budaya. Namun apa mau dikata jika yang mau mengubah adalah pihak Kraton
Yogyakarta? Tentunya ada alasan kuat yang mendasarinya. Konon, dari
catatan sejarah disebutkan, sosok Tugu yang ada sekarang itu sebenarnya
telah mengalami perubahan bentuk dari sosok aslinya. Tugu itu semula
didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta
setelah Mataram Islam yang berpusat di Kartasura terpecah menjadi dua.
Sebagian menjadi Kasultanan Yogyakarta, sebagian lagi menjadi Kasunanan
Surakarta pada Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tugu itu dulu disebut Tugu
Golong-Gilig.
Bentuk Tugu Golong-Gilig itu, konon, puncaknya berupa golong (bulatan
mirip bola) dan bawahnya berbentuk bulat panjang/silindris atau gilig.
Tugu Golong-Gilig tersebut melambangkan tekad yang golong gilig
(menyatunya pimpinan/raja dengan rakyatnya). Makna lebih jauh adalah
bersatunya raja dan rakyatnya dalam perjuangan melawan musuh maupun
menyatu dalam membentuk pemerintahan dalam satu negara. Di sisi lain
juga bisa dimaknakan sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Khalik.
Jika melihat makna Tugu Golong-Gilig adalah bersatunya antara raja dan
rakyat, maka hal itu bisa dimengerti karena pendiri Kerajaan Yogyakarta –
kala itu – dikenal sebagai pemberontak yang ingin memisahkan diri dari
Kerajaan Mataram Islam yang justru dikuasai penjajah Belanda. Pangeran
Mangkubumi (kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I) memilih
memberontak dan memisahkan diri daripada kerajaan di bawah pengaruh
kekuasaan Belanda.
Pernah Runtuh
Tugu Golong-Gilig semula dibangun setinggi 25 meter. Kemudian karena
gempa tektonik pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796
Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi, tugu itu rusak terpotong sekitar
sepertiga bagian. Musibah itu bisa terbaca dalam candra sengkala –
sebuah catatan kata yang bermakna angka tahun -- Obah Trusing Pitung
Bumi (1796).
Tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas
Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng
Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3
Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Oleh pemerintah Belanda, tugu
itu disebut De Witte Paal (Tugu Putih).
Menurut kerabat Kraton Yogyakarta yang juga Kepala Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) Daerah Istimewa Yogyakarta, Raden Mas Haji Tirun Marwito SH; saat ini Kraton Yogyakarta memang sedang mengkaji kemungkinan mengembalikan Tugu Yogya ke bentuk asalnya. "Bentuk Tugu yang sekarang ini sudah direkayasa oleh pihak penjajah Belanda saat itu. Akibatnya makna filosofinya sudah berubah," tuturnya.
Saat dibangun kembali oleh pemerintah Belanda itu, di sana ada candra sengkala Wiwaraharja Manunggal Manggalaning Praja atau tahun Jawa 1819 yang berarti pintu menuju kesejahteraan bagi para pemimpin negara. Hal itu jelas bertentangan dengan simbol Golong-Gilig. Oleh sebab itulah maka pihak Kraton Yogyakarta berniat mengubah bentuk tugu yang sekarang.
"Bila nanti rencana itu dilaksanakan, ada beberapa kemungkinan yang akan ditempuh. Misalnya, Tugu Yogya yang ada sekarang ini dipindah dan diletakkan di pinggir jalan sebagai monumen bahwa Tugu Yogya pernah berbentuk seperti itu. Lalu di lokasi tempat tugu itu berada dibangun kembali Tugu Golong-Gilig seperti yang pernah dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I," kata Tirun.
Menurut kerabat Kraton Yogyakarta yang juga Kepala Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) Daerah Istimewa Yogyakarta, Raden Mas Haji Tirun Marwito SH; saat ini Kraton Yogyakarta memang sedang mengkaji kemungkinan mengembalikan Tugu Yogya ke bentuk asalnya. "Bentuk Tugu yang sekarang ini sudah direkayasa oleh pihak penjajah Belanda saat itu. Akibatnya makna filosofinya sudah berubah," tuturnya.
Saat dibangun kembali oleh pemerintah Belanda itu, di sana ada candra sengkala Wiwaraharja Manunggal Manggalaning Praja atau tahun Jawa 1819 yang berarti pintu menuju kesejahteraan bagi para pemimpin negara. Hal itu jelas bertentangan dengan simbol Golong-Gilig. Oleh sebab itulah maka pihak Kraton Yogyakarta berniat mengubah bentuk tugu yang sekarang.
"Bila nanti rencana itu dilaksanakan, ada beberapa kemungkinan yang akan ditempuh. Misalnya, Tugu Yogya yang ada sekarang ini dipindah dan diletakkan di pinggir jalan sebagai monumen bahwa Tugu Yogya pernah berbentuk seperti itu. Lalu di lokasi tempat tugu itu berada dibangun kembali Tugu Golong-Gilig seperti yang pernah dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I," kata Tirun.
Sumber : Tentang Tugu Yogyakarta | FACEKOM
